PATI, Portalljateng.id | Berlokasi di Stadion Joyokusumo, turnamen sepak bola usia dini Adhyaksa Cup resmi digelar pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Ajang ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara Kejaksaan Negeri Pati, Askab PSSI Pati, Dinporapar Pati, dan KONI Pati sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir Kejaksaan ke-81 pada 2 September mendatang.
M. Khoirun Ni’am, Head Sub Section (Kasubsi) Pertimbangan Hukum pada Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) Perwakilan Kejaksaan Negeri Pati yang menyampaikan sambutan mewakili Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pati menegaskan bahwa turnamen ini bertujuan untuk membawa Kejaksaan lebih dekat dengan masyarakat, khususnya pembinaan generasi muda.
“Pembinaan usia dini adalah bagian dari upaya pencegahan agar kelak lahir generasi yang tidak hanya tangguh secara fisik dan teknik, tetapi juga memiliki moral dan mental yang baik,” tegasnya.
Kajari Pati juga mengingatkan seluruh peserta untuk mengutamakan kejujuran dan sportivitas selama bertanding.
Disisi lain, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Pati, Rekso Suhartono, menyambut positif hadirnya peserta dari berbagai daerah, bahkan ada yang datang jauh dari Kutai. Kehadiran ratusan atlet muda beserta keluarga dan pelatih membawa dampak signifikan bagi ekonomi daerah.
“Peserta luar daerah tentunya menginap di hotel-hotel lokal dan menikmati kuliner Pati. Ini sangat mendukung sport tourism dan melambungkan nama Pati di tingkat nasional melalui prestasi olahraga,” ungkapnya.
Sementara Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Pati, Dian Dwi Budianto, menjelaskan detail teknis turnamen yang dikuti puluhan tim anak-anak. kelompok umur ini menggunakan durasi 2 \times 10 menit.
Sebanyak 24 tim bersaing di kategori U-12, sementara 19 tim akan berlaga di kelompok U-10 pada pekan berikutnya. Mengingat cuaca panas, panitia mengantisipasinya dengan menyiram air di lapangan demi kenyamanan pemain tanpa memberlakukan water break, agar pertandingan selesai sebelum malam hari.
Dian Dwi Budianto, menekankan bahwa sepak bola dan kebudayaan harus berjalan selaras sebagai alat pemersatu bangsa dan warisan leluhur.
“Kami harus menggandeng semua pihak, terutama kebudayaan. Warisan leluhur itu sama saja seperti warisan sepak bola. Sepak bola adalah alat pemersatu bangsa, sedangkan kebudayaan adalah warisan yang harus kita rawat. Jangan sampai sepak bolanya maju, tapi kebudayaannya tidak ikut maju.” pungkasnya. (red)





Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE