PSSI Pati Sayangkan Li...

PSSI Pati Sayangkan Liga Desa Tanpa Rekomendasi Resmi

Ukuran Teks:

PATI, PORTALLJATENG.id | Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kabupaten Pati menyayangkan adanya penyelenggaraan turnamen sepak bola Liga Desa se-Kabupaten Pati yang berjalan tanpa prosedur rekomendasi resmi dari asosiasi. Kurangnya koordinasi ini dinilai memicu potensi gesekan dan ketidakteraturan regulasi di lapangan.

‎Ketua Askab PSSI Kabupaten Pati, Dian Dwi Budianto, mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada permintaan rekomendasi resmi dari panitia penyelenggara terkait.

‎”Bukan tidak memberikan (rekomendasi), tapi memang tidak ada permintaan dari panitia penyelenggara. Seharusnya mekanismenya sebelum berkegiatan itu ada rekomendasi dulu agar kami bisa mengecek regulasi dan standar dasar sepak bola,” jelas Dian saat diwawancarai lewat sambungan Whatsapp (wa), Sabtu (3/1/2026).

‎​Kekecewaan PSSI ini didasari oleh adanya insiden bentrokan yang sempat terjadi dalam turnamen tersebut, yang melibatkan pemain luar daerah maupun masalah domisili. Menurut PSSI, hal tersebut terjadi karena tidak adanya regulasi acuan yang kuat dan pengawasan dari perangkat pertandingan yang kompeten, seperti Match Commissioner (Messkom).

‎​”Pihak penyelenggara mengaku tidak ada anggaran untuk Messkom, padahal fungsinya sangat vital untuk mencatat dan mengawasi jalannya pertandingan. Akhirnya terjadi bentrok antara pemain luar dan lokal karena koordinasi yang lemah,” tambahnya.

‎​PSSI meluruskan persepsi masyarakat yang menganggap pengurusan rekomendasi akan membebani panitia secara finansial. Pihak asosiasi menegaskan bahwa mereka tidak memungut biaya untuk pemberian rekomendasi maupun konsultasi regulasi.

‎​”Kami tidak minta bayaran untuk rekomendasi atau izin. Itu sudah tugas kami sebagai PSSI Kabupaten untuk mengedukasi. Honor petugas lapangan pun sudah diatur minimalis oleh undang-undang olahraga, sekitar Rp75.000 per hari,” tandasnya

‎​Meski turnamen tersebut dianggap “ilegal” secara prosedural, PSSI memilih pendekatan persuasif daripada pembubaran paksa demi mendukung kegiatan olahraga di daerah. Namun, mereka berharap ke depannya seluruh panitia turnamen, bahkan di tingkat desa sekalipun, dapat bekerja sama dengan PSSI untuk menjamin keamanan dan sportivitas pertandingan sesuai standar yang berlaku.

‎​”Ini menjadi pembelajaran. Membuat turnamen itu tidak hanya asal bermain bola, tapi ada tata cara olahraga yang betul, apalagi melibatkan penonton dan banyak desa dan terkait hadiah yang didapatkan para pemenang sepenuhnya di ranah panitia pelaksana,” pungkasnya.


Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Bagikan:
Artikel berhasil disimpan