PATI, Portalljateng.id | Direktur PDAM Tirta Bening Pati, Prihartono, memaparkan program strategis dan pembenahan mendasar dalam 100 hari kerja pertamanya. Mengusung tagline “Togetherness” (kebersamaan), langkah awal kepemimpinannya diprioritaskan pada pembenahan tata kelola perusahaan berbasis transparansi dan peningkatan budaya kerja internal.
Direktur Perumda Tirta Bening Pati, H. Prihanto, S.E., M.M., menegaskan bahwa tata kelola usaha yang sehat harus ditopang oleh keterbukaan serta koordinasi yang berjenjang di seluruh struktur organisasi.
“Seratus hari kerja saya terkait tata kelola usaha berbasis transparansi dan koordinasi. Apapun bentuknya, kalau tidak ada transparansi dan koordinasi, tidak bisa berjalan. Koordinasi itu harus berjenjang seperti anak tangga; kalau melompat satu, pasti jatuh,” ujar Prihanto, Jumat (28/8/2026).
Pembenahan internal tersebut menyasar hal-hal mendasar, terutama kedisiplinan dan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap perusahaan.
“Perubahan yang paling dasar itu yang paling dekat dengan diri kita, yaitu rasa mencintai perusahaan. Yang biasanya datang jam delapan, datanglah tepat jam setengah आठ. Yang biasa tidak merapikan administrasi, dirapikan. Tagline saya adalah Togetherness, kebersamaan, karena kantor ini adalah milik kita bersama,” tuturnya.
Selain konsolidasi internal, PDAM Tirta Bening juga memasang target ekspansi layanan hingga tahun 2027. Saat ini, jumlah pelanggan tercatat sekitar 45.000, dan ditargetkan bertambah hingga mencapai 50.000 pelanggan.
“Seseorang yang memasang target itu harus tinggi. Minta sama Tuhan kok kecil-kecilan. Kalau tidak diberi kepalanya, minimal diberi bulunya atau perutnya,” selorohnya.
Terkait kesiapan pasokan air baku, ia memastikan kapasitas yang ada saat ini cukup untuk menampung lonjakan pelanggan baru tanpa harus langsung menambah sumber air baru. Kuncinya terletak pada penurunan angka Non-Revenue Water (NRW) atau tingkat kehilangan air akibat kebocoran pipa.
“NRW kita lumayan tinggi. Kalau NRW bisa saya turunkan, pasokan air kita cukup untuk 5.000 pelanggan baru. Jangan setiap ada air tidak mengalir, malah ditambah airnya. Harus dicari dulu permasalahannya, jangan-jangan bocornya yang besar. Kalau menambah air justru memperbesar lubang,” pungkasnya.
Saat ini pihak manajemen tengah melakukan pemetaan (mapping) di lima cabang jaringan perpipaan yang rata-rata sudah berusia tua untuk menentukan titik-titik instalasi yang perlu diremajakan secara bertahap. (red)





Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE