BANDUNG, Portalljateng.id | Bandung menjadi titik kulminasi persaingan riset pelajar nasional ketika Indonesian Student Research Competition (ISRC) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesia Scientific Society, 17-19 April 2026 di de Java Hotel mempertemukan ratusan tim terbaik dari seluruh Indonesia dalam satu arena berstandar tinggi.
Lebih dari 700 pendaftar yang tersaring ketat menjadi hanya 20 sampai 25 tim per bidang, satu nama kembali muncul sebagai kekuatan dominan yang tidak bisa diabaikan. MAN 2 Kudus, mereka tidak datang untuk sekadar berpartisipasi, tetapi untuk mengeksekusi performa dengan presisi tinggi dan menegaskan posisi sebagai kekuatan utama di bidang riset pelajar.
Tim MAN 2 Kudus tampil di Bidang Humaniora dan Ilmu Sosial (BISH) kategori SMA dengan penelitian berjudul “Limbah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai Indikator Implementasi Kebijakan Analisis Partisipasi dan Perilaku Konsumsi Siswa”. Tim ini diperkuat oleh:
1. Hanisa Cahya Zilarisna (XI-3)
2. Aqila Ditahayu (XI-3)
3. Keisha Azalia Bellini Birton (X-12)
4. Nabeela Cikal Samara (X-12)
Sejak awal presentasi, terlihat jelas bahwa pendekatan mereka tidak biasa. Struktur argumen dibangun sistematis, data dikontrol dengan ketat, dan narasi kebijakan disampaikan dengan presisi tinggi. Dalam format dua babak pengujian yang menuntut konsistensi performa dan ketahanan mental, mereka mampu menjaga kualitas dari awal hingga akhir. Bahkan pada momen paling krusial saat tampil di urutan terakhir, mereka justru mengubahnya menjadi puncak pertunjukan.
Presentasi berjalan tajam, respons terhadap pertanyaan juri terukur, dan penguasaan materi tidak menunjukkan celah berarti. Reaksi yang muncul bukan sekadar apresiasi formal, tetapi standing ovation yang mencerminkan pengakuan atas gap kualitas yang terlihat jelas di ruang tersebut.
Disisi lain, Kepala MAN 2 Kudus, Ali Musyafak, menyatakan rasa syukur dan bangga yang mendalam atas pencapaian luar biasa ini. Ia menilai kemenangan ini adalah buah dari kerja keras dan karakter tangguh para siswa.
”Kami sangat bersyukur atas capaian luar biasa anak-anak di ajang ISRC 2026 ini. Meraih medali emas di tengah persaingan ratusan sekolah terbaik nasional adalah bukti bahwa siswa MAN 2 Kudus memiliki mental juara dan nalar kritis yang tajam. Apresiasi setinggi-tingginya untuk tim dan pembimbing yang telah mengharumkan nama madrasah di kancah nasional dengan riset yang sangat relevan bagi isu bangsa saat ini,” ujar Ali Musyafak, Rabu (22/4/2026)
Dewan juri yang terdiri dari akademisi terkemuka nasional memberikan respons yang sangat kuat terhadap performa ini. Susunan juri meliputi Prof. Dr. H. Chaerul Rochman, M.Pd., CIQAR (UIN Sunan Gunung Djati), Prof. Hendra Gunawan, Ph.D. (ITB), Prof. Fenny M. Dwivany, PhD (ITB), Prof. Dr. Rajesri Govindaraju, S.T., M.T. (ITB), Assoc. Prof. Dr. Arie Hardian, S.Si., M.Si. (Universitas Jendral Achmad Yani), dan Reza Setiawan, S.Si., M.T. (Direktur SEAMEO QITEP in Science).
Salah satu momen paling mencolok terjadi ketika Prof. Dr. H. Chaerul Rochman secara langsung mengajak tim untuk berfoto bersama, sebuah bentuk apresiasi yang jarang terjadi dan menjadi indikator bahwa performa yang ditampilkan berada di atas standar umum kompetisi. Ketika pengumuman pemenang disampaikan, hasilnya konsisten dengan dinamika yang telah terlihat sejak sesi presentasi. MAN 2 Kudus meraih Gold Medal pada kategori BISH SMA dengan margin kualitas yang terasa jelas sepanjang kompetisi berlangsung.
Keberhasilan ini tidak bisa dilepaskan dari peran pembimbing Muhammad Najih Irfani, S.T., M.Pd. yang menariknya, ini merupakan kelanjutan dari pola keberhasilan yang sudah terbentuk sebelumnya. Pada tahun sebelumnya, pembimbing yang sama juga mengantarkan tim meraih medali emas di bidang yang sama.
Latar belakang teknik yang dimiliki pembimbing justru menjadi keunggulan strategis ketika diterapkan pada bidang humaniora dan ilmu sosial. Pendekatan yang dihasilkan lebih sistematis, lebih terstruktur, dan lebih kuat secara logika, sehingga mampu menghasilkan analisis kebijakan yang tidak hanya deskriptif tetapi juga analitis dan sulit dipatahkan. Ini bukan kebetulan, tetapi hasil dari transfer pendekatan lintas disiplin yang dieksekusi dengan disiplin tinggi.
Dengan capaian dua medali emas berturut-turut, MAN 2 Kudus secara efektif mengamankan status sebagai juara bertahan dan sekaligus menjadi tolok ukur baru di kategori ini. ISRC 2026 pada akhirnya tidak hanya mencatat kemenangan, tetapi menegaskan satu hal yang semakin sulit dibantah, bahwa MAN 2 Kudus adalah mercusuar riset pelajar di Indonesia.(red)





